Valas Hari Ini: Dolar AS Menguat Jelang Data Penjualan Ritel dan IHP AS
Dolar AS menguat di pasar valas menjelang rilis data Penjualan Ritel dan Indeks Harga Produsen AS, seiring ekspektasi The Fed menahan suku bunga lebih lama.
Fokus Pasar Tertuju pada Penjualan Ritel dan IHP AS
Pasar valuta asing global pada perdagangan Rabu menunjukkan pemulihan kekuatan Dolar AS (USD) setelah sempat kehilangan momentum terhadap sejumlah mata uang utama. Penguatan Greenback terjadi seiring respons pasar terhadap data inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Amerika Serikat, yang dinilai cukup kuat untuk memperkuat keyakinan bahwa Federal Reserve (The Fed) belum akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat.
Setelah rilis data inflasi AS untuk bulan Desember, pergerakan harga kontrak berjangka suku bunga The Fed mengindikasikan bahwa pemangkasan suku bunga baru berpotensi terjadi pada Juni, bukan dalam beberapa bulan mendatang. Perubahan ekspektasi ini memberikan dukungan signifikan terhadap USD, terutama di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada rilis data Penjualan Ritel dan Indeks Harga Produsen (IHP) Amerika Serikat yang dijadwalkan keluar pada Rabu waktu setempat. Kedua indikator ini dinilai krusial untuk menilai kekuatan konsumsi domestik dan tekanan inflasi dari sisi produsen.
Penjualan Ritel AS diprakirakan naik 0,4% secara bulanan (MoM) pada November, mencerminkan ketahanan belanja konsumen di tengah suku bunga tinggi. Sementara itu, IHP utama dan inti diperkirakan meningkat 2,7% secara tahunan (YoY), yang berpotensi memperkuat narasi bahwa tekanan inflasi belum sepenuhnya mereda.
Jika data tersebut keluar lebih kuat dari perkiraan, USD berpotensi melanjutkan penguatannya karena pasar akan semakin menunda ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed.
Tekanan Politik terhadap The Fed Picu Kekhawatiran Pasar
Di sisi lain, pasar juga mencermati tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya dari Gedung Putih terhadap The Fed untuk segera menurunkan suku bunga. Situasi ini memicu kekhawatiran mengenai independensi bank sentral AS.
Ketua The Fed Jerome Powell mengungkapkan bahwa bank sentral AS menerima panggilan dari Departemen Kehakiman terkait pernyataannya di Kongres pada musim panas lalu mengenai pembengkakan biaya renovasi gedung The Fed senilai US$2,5 miliar. Powell menyebut isu tersebut sebagai “dalih” untuk menekan The Fed agar segera melonggarkan kebijakan moneternya.
Pernyataan ini menambah lapisan ketidakpastian baru di pasar keuangan, meskipun untuk saat ini investor masih lebih fokus pada data ekonomi ketimbang risiko politik domestik AS.
Geopolitik Global Tambah Volatilitas Pasar
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait meningkatnya kerusuhan sipil di Iran. Presiden AS Donald Trump dilaporkan membatalkan seluruh pertemuan dengan pejabat Iran dan menyampaikan dukungan terbuka kepada para pengunjuk rasa, sembari menjanjikan bantuan dalam waktu dekat.
Trump juga kembali melontarkan ancaman akan melakukan intervensi jika pemerintah Iran menggunakan kekerasan mematikan terhadap demonstran. Retorika ini meningkatkan permintaan terhadap aset safe-haven, sekaligus menambah volatilitas di pasar mata uang dan komoditas.
Pergerakan Mata Uang Utama dan Asia-Pasifik
Di kawasan Asia-Pasifik, AUD/USD menarik minat beli di dekat level 0,6700, didukung ekspektasi pasar bahwa Reserve Bank of Australia (RBA) akan mempertahankan sikap hawkish lebih lama. Selain itu, data perdagangan Tiongkok turut memberikan sentimen positif.
Tiongkok mencatat surplus perdagangan sebesar US$114,10 miliar pada Desember, meski menghadapi tekanan tarif yang kembali digaungkan Trump. Ekspor Tiongkok tumbuh 6,6% secara tahunan, jauh melampaui ekspektasi pasar sebesar 3%, memberikan dorongan tidak langsung bagi mata uang terkait kawasan.
Sementara itu, USD/JPY melonjak ke level tertinggi sejak Juli 2024 di sekitar 159,30, didorong oleh spekulasi politik di Jepang. Laporan menyebutkan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi berpotensi menggelar pemilihan umum mendadak pada 8 Februari untuk mengonsolidasikan kekuasaannya, yang memicu tekanan terhadap Yen.
Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda kembali menegaskan bahwa BoJ akan terus menaikkan suku bunga jika kondisi ekonomi dan harga sesuai proyeksi serta upah meningkat secara moderat. Namun, pasar masih menilai langkah BoJ akan berjalan sangat bertahap.
Euro dan Pound Sterling Bergerak Terbatas
Di Eropa, EUR/USD bergerak datar di bawah level 1,1650 karena minimnya rilis data penting dari kawasan Euro. Sementara itu, GBP/USD stabil di sekitar 1,3435, dengan investor menanti laporan Produk Domestik Bruto (PDB) Inggris bulan November yang akan dirilis Kamis.
Fokus tambahan juga tertuju pada data HICP Jerman yang dijadwalkan rilis Jumat, yang dapat memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB).
Emas dan Perak Cetak Rekor, Minyak Melemah
Di pasar komoditas, harga emas bertahan di zona positif dekat rekor tertinggi di atas US$4.625, didukung meningkatnya permintaan aset safe-haven akibat ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global.
Harga perak melonjak lebih dari 3,65%, mencetak rekor tertinggi baru di US$91,57 pada awal sesi Eropa, mencerminkan minat spekulatif dan permintaan lindung nilai yang kuat.
Sebaliknya, harga minyak WTI melemah tipis ke sekitar US$60,70 per barel, tertekan oleh berlanjutnya ekspor minyak Venezuela serta laporan American Petroleum Institute (API) yang menunjukkan lonjakan signifikan persediaan minyak mentah AS. Meski demikian, pasar tetap waspada terhadap potensi gangguan pasokan akibat meningkatnya ketegangan di Iran.Valas Hari Ini, Dolar AS, USD Menguat,
Secara keseluruhan, Dolar AS kembali menjadi pusat perhatian pasar valas, didukung data inflasi yang solid dan ekspektasi The Fed yang tetap berhati-hati. Dengan sederet data penting AS yang akan dirilis dan risiko geopolitik yang terus membayangi, volatilitas diperkirakan tetap tinggi dalam beberapa sesi ke depan.
