USD/INR Cetak Rekor Tertinggi
USD/INR kembali menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di tengah aksi jual asing yang konsisten di pasar India, tekanan geopolitik global, serta dinamika kebijakan The Fed dan anggaran India.
USD/INR Kembali Menguji Level Tertinggi Sepanjang Masa
Nilai tukar USD/INR kembali melonjak dan mengunjungi level tertinggi sepanjang masa di sekitar 91,55 pada awal pekan ini. Pelemahan Rupee India (INR) terjadi meskipun Dolar AS (USD) secara global justru berada dalam tekanan, menegaskan bahwa faktor domestik India saat ini lebih dominan dibandingkan sentimen global.
Rupee terus berkinerja lebih buruk dibandingkan mayoritas mata uang utama dan emerging market lainnya. Tekanan ini dipicu oleh arus keluar dana asing yang berkelanjutan, lemahnya minat investor global terhadap saham India, serta ketidakpastian arah kebijakan fiskal dan perdagangan New Delhi.
Aksi Jual FII Jadi Beban Utama Rupee
Salah satu faktor paling krusial yang menekan Rupee India adalah aksi jual agresif Investor Institusi Asing (Foreign Institutional Investors/FII). Sepanjang Januari, FII tercatat menjadi penjual bersih pada 10 dari 11 hari perdagangan, dengan total pelepasan saham mencapai Rs 26.052,40 crore.
Tekanan ini bukanlah fenomena jangka pendek. Sepanjang tahun 2025, FII juga tercatat menjadi penjual bersih dalam empat dari dua belas bulan, mencerminkan sikap hati-hati investor global terhadap prospek aset India. Arus keluar dana ini memperlemah pasar ekuitas domestik dan secara langsung menekan nilai tukar rupee.
Minimnya katalis positif dari sisi reformasi struktural dan ketidakpastian kebijakan perdagangan turut membuat investor asing memilih menahan eksposur terhadap aset India.
Ketegangan Dagang AS–India Memperburuk Sentimen
Ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan India menjadi faktor tambahan yang membebani rupee. Washington telah menaikkan tarif impor terhadap produk India menjadi 50%, salah satu yang tertinggi di antara mitra dagang AS.
Langkah tersebut dikaitkan dengan keputusan India yang tetap membeli minyak dari Rusia, yang bertentangan dengan kepentingan geopolitik AS. Ketegangan ini menciptakan risiko tambahan terhadap neraca perdagangan India dan menurunkan daya tarik India di mata investor global.
Pasar khawatir bahwa eskalasi lebih lanjut dapat berdampak negatif pada ekspor, pertumbuhan ekonomi, serta stabilitas nilai tukar dalam jangka menengah.
Anggaran Fiskal Jadi Penentu Arah Rupee Berikutnya
Fokus pasar domestik kini tertuju pada pengumuman Anggaran Fiskal India yang akan disampaikan oleh Menteri Keuangan Nirmala Sitharaman pada 1 Februari. Anggaran ini dipandang sebagai katalis penting yang dapat menentukan arah pasar keuangan India dalam beberapa bulan ke depan.
Menurut laporan Jefferies, pemerintah India diperkirakan menargetkan defisit fiskal sekitar 4,2% dari PDB pada Tahun Fiskal 2027. Namun, defisit berpotensi melebar hingga 4,4% apabila pemerintah memilih memprioritaskan stimulus pertumbuhan jangka pendek.
Jefferies juga memperkirakan adanya peningkatan belanja pertahanan serta peluncuran sejumlah kebijakan pro-pertumbuhan, yang meskipun positif bagi ekonomi riil, berisiko menambah tekanan pada posisi fiskal dan nilai tukar rupee.
Dolar AS Melemah, Tapi USD/INR Tetap Menguat
Menariknya, penguatan USD/INR terjadi di tengah pelemahan Dolar AS secara global. Indeks Dolar AS (DXY) tercatat turun sekitar 0,2% ke area 99,15, tertekan oleh ketegangan geopolitik baru antara AS dan Uni Eropa.
Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana penerapan tarif 10% terhadap delapan negara Eropa mulai 1 Februari, terkait penolakan UE atas rencana AS untuk mengambil alih Greenland. Uni Eropa merespons keras dan mengancam langkah balasan terkoordinasi, termasuk penggunaan “instrumen anti-koersi”.
Selain faktor geopolitik, pernyataan dovish dari pejabat The Fed turut membebani dolar. Wakil Ketua The Fed untuk Pengawasan, Michelle Bowman, menegaskan bahwa bank sentral AS seharusnya siap memangkas suku bunga lebih lanjut di tengah risiko pasar tenaga kerja.
Menurut Bowman, risiko terhadap mandat ketenagakerjaan kini lebih besar dibandingkan tekanan inflasi, sehingga The Fed tidak seharusnya memberi sinyal jeda pemangkasan suku bunga.
Meski demikian, pelemahan dolar global ini gagal memberikan dukungan berarti bagi rupee, yang masih tertekan oleh faktor domestik.
Menanti Data PMI India dan AS
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati data pendahuluan PMI sektor swasta India dan AS untuk bulan Januari yang dijadwalkan rilis pada Jumat. Data ini akan memberikan gambaran awal mengenai kondisi aktivitas bisnis dan potensi arah pertumbuhan ekonomi di kedua negara.
PMI yang kuat dari India berpotensi memberikan sedikit kelegaan bagi rupee, meskipun dampaknya diperkirakan terbatas selama arus keluar FII masih berlanjut.
Analisis Teknis: Tren Bullish USD/INR Masih Terjaga
Dari sisi teknikal, USD/INR tetap berada dalam tren naik yang solid. Harga bergerak stabil di atas EMA 20-hari yang terus menanjak, menandakan dominasi pembeli masih kuat.
Indikator Relative Strength Index (RSI) 14-hari berada di 68,85, mencerminkan momentum bullish yang kuat tanpa menunjukkan kondisi jenuh beli ekstrem. Support terdekat berada di EMA 50-hari di area 89,91, yang menjadi level krusial jika terjadi koreksi.
Selama USD/INR mampu bertahan di atas zona support dinamis tersebut, potensi kelanjutan kenaikan tetap terbuka. Namun, penutupan harian di bawahnya dapat memicu koreksi yang lebih dalam.
Kembalinya USD/INR ke rekor tertinggi sepanjang masa mencerminkan tekanan struktural yang tengah dihadapi Rupee India. Aksi jual FII yang konsisten, ketegangan dagang dengan AS, serta ketidakpastian fiskal menjadi kombinasi faktor yang membayangi mata uang India, bahkan ketika Dolar AS global sedang melemah.
Dalam jangka pendek, arah USD/INR akan sangat ditentukan oleh anggaran fiskal India, pergerakan arus dana asing, serta perkembangan geopolitik global. Selama sentimen domestik belum membaik, Rupee berpotensi tetap berada dalam posisi defensif terhadap Dolar AS.
