ihsg

IHSG Konsolidasi di Level Tinggi Jelang Keputusan BI, Sentimen Global dan Isu Dagang AS Jadi Beban Pasar

IHSG bergerak mendatar di level 9.134 menjelang keputusan Bank Indonesia. Pasar bersikap hati-hati di tengah tekanan global, isu dagang AS–Eropa, pelemahan bursa global, dan ekspektasi kebijakan moneter yang tetap ketat.

Sektor Komoditas dan Siklikal Menopang IHSG

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cenderung tertahan pada perdagangan Selasa, dengan indeks ditutup nyaris datar di level 9.134, naik tipis 0,01%. Minimnya arah pergerakan mencerminkan sikap wait and see pelaku pasar menjelang keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI), di tengah memburuknya sentimen global akibat isu perdagangan dan ketegangan geopolitik.

Sepanjang sesi perdagangan, IHSG bergerak di rentang 9.120 hingga 9.174, setelah dibuka di level 9.156. Meski sempat mencoba menguat, laju indeks kembali melemah dan cenderung sideways, menandakan investor enggan mengambil risiko besar sebelum kepastian kebijakan moneter dan arah pasar global menjadi lebih jelas.

Dari sisi sektoral, IHSG masih mendapatkan dukungan dari saham-saham berbasis komoditas dan sektor siklikal. Indeks sektor bahan dasar (IDXBASIC) mencatat penguatan signifikan sebesar 2,49% ke level 2.389, didorong oleh naiknya harga komoditas tertentu serta ekspektasi permintaan yang membaik.

Sektor siklikal (IDXCYCLIC) juga menguat 2,08% ke 1.466, mencerminkan optimisme selektif investor terhadap konsumsi dan aktivitas ekonomi domestik. Selain itu, indeks DBX turut menguat 2,76% ke 4.503, menambah bantalan bagi IHSG agar tidak jatuh lebih dalam.

Namun demikian, penguatan sektor-sektor tersebut belum mampu mengangkat kinerja indeks secara keseluruhan, lantaran tekanan cukup besar datang dari saham-saham berkapitalisasi besar. Indeks LQ45 turun 0,98% ke 884, diikuti Jakarta Islamic Index (JII) yang melemah 1,21% ke 614, serta I-GRADE yang terkoreksi 1,53% ke 232. Tekanan ini menandakan adanya aksi ambil untung dan pengurangan eksposur risiko pada saham-saham unggulan.

Pasar Tahan Langkah Jelang Keputusan BI

Fokus utama pelaku pasar domestik tertuju pada keputusan Bank Indonesia yang akan diumumkan pada Rabu (21 Januari). Konsensus pasar, termasuk hasil survei Reuters, memperkirakan BI akan menahan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 4,75%, dengan deposit facility di 3,75% dan lending facility di 5,50%.

Kebijakan BI dinilai lebih diarahkan pada stabilisasi nilai tukar rupiah, seiring meningkatnya tekanan eksternal dan potensi arus keluar dana asing, khususnya dari pasar obligasi. Meski pemerintah menegaskan fundamental ekonomi domestik masih solid, investor tetap berhati-hati terhadap dinamika fiskal dan kondisi likuiditas global.

Sikap defensif pasar mencerminkan kekhawatiran bahwa ruang pelonggaran kebijakan moneter semakin terbatas, terutama jika volatilitas global terus meningkat dan tekanan terhadap rupiah berlanjut.

Sentimen Global Rapuh, Isu Dagang AS–Eropa Membayangi Pasar

Dari sisi global, sentimen pasar keuangan masih rapuh akibat meningkatnya ketegangan perdagangan dan geopolitik. Indeks dolar AS (DXY) melemah tipis di sekitar 98,47, namun hal tersebut belum cukup untuk memperbaiki selera risiko investor.

Isu hubungan Amerika Serikat dengan Eropa kembali memanas, dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait rencana pembahasan isu Greenland di forum World Economic Forum (WEF) Davos. Selain itu, Trump menegaskan rencana pengenaan tarif 10% terhadap sejumlah barang impor dari negara-negara Eropa dan Inggris mulai 1 Februari, serta ancaman tarif hingga 200% terhadap produk anggur dan sampanye asal Prancis.

Ketegangan dagang ini menambah ketidakpastian global dan memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik perdagangan yang lebih luas, yang berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi dunia.

Bursa Global Melemah, Ekspektasi The Fed Berubah

Dampak sentimen negatif tersebut tercermin jelas di pasar global. Kontrak berjangka saham AS melemah tajam pada sesi Eropa, dengan Dow Jones futures turun 1,25%, sementara S&P 500 futures dan Nasdaq 100 futures masing-masing terkoreksi 1,34% dan 1,56%.

Tekanan semakin kuat setelah pasar menyesuaikan ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Federal Reserve, dengan peluang pemangkasan suku bunga kini bergeser ke Juni. Sikap The Fed yang masih berhati-hati membuat investor global cenderung mengurangi aset berisiko, termasuk saham di pasar berkembang seperti Indonesia.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent, dalam pernyataannya di WEF Davos, menegaskan bahwa ancaman tarif terkait isu Greenland bersifat kasus khusus dan berbeda dari perjanjian dagang lainnya. Ia tetap optimistis terhadap prospek ekonomi AS, dengan proyeksi pertumbuhan PDB riil di kisaran 4%–5% tahun ini. Namun demikian, pasar tetap mencermati potensi pengumuman penting dari Ketua The Fed yang disebut dapat dilakukan dalam waktu dekat.

Prospek IHSG ke Depan

Ke depan, pergerakan IHSG diperkirakan masih akan bergerak terbatas dan volatil, sangat bergantung pada hasil keputusan BI serta perkembangan sentimen global. Data ekonomi AS seperti PCE, PDB, PMI, serta laporan kinerja emiten besar dunia akan menjadi katalis penting yang menentukan arah pasar dalam jangka pendek.

Selama ketidakpastian global belum mereda dan kebijakan moneter masih ketat, pelaku pasar diperkirakan akan tetap selektif, dengan fokus pada sektor-sektor defensif dan saham berbasis fundamental kuat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this content