Prakiraan Minggu Depan: Dolar AS Terpuruk ke Level Terendah Empat Bulan
Dolar AS melemah ke level terendah empat bulan menjelang keputusan suku bunga The Fed. Simak analisis lengkap USD, EUR/USD, GBP/USD, USD/JPY, AUD/USD, emas, serta agenda data dan bank sentral pekan depan.
Pasar Menahan Napas Jelang Keputusan The Fed
Dolar AS (USD) menutup perdagangan pekan ini dalam posisi defensif, bertengger di sekitar level terendah empat bulan di kisaran 97,80. Pelemahan ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar global menjelang pekan krusial yang dipenuhi agenda kebijakan moneter, rilis data penting, serta ketidakpastian geopolitik yang kembali memanas.
Nada risk-off kembali mendominasi pasar keuangan global setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman penerapan tarif tambahan sebesar 10% terhadap delapan negara Eropa. Tarif tersebut disebut akan meningkat secara bertahap kecuali Denmark bersedia menyetujui penjualan Greenland kepada Amerika Serikat. Pernyataan tersebut memicu ketegangan diplomatik dan meningkatkan volatilitas di pasar valuta asing.
Ketegangan sempat mereda pada pertengahan pekan ketika Trump bersama Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengumumkan kerangka kerja awal untuk kesepakatan masa depan terkait Greenland. Meski demikian, ketidakpastian kebijakan tetap menjadi faktor pembebanan bagi dolar AS, terutama di tengah meningkatnya sensitivitas pasar terhadap arah kebijakan The Federal Reserve.
Dari sisi data ekonomi, Amerika Serikat merevisi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal ketiga (Q3). Laju pertumbuhan tahunan untuk periode tiga bulan hingga September disesuaikan naik menjadi 4,4%, sedikit lebih tinggi dibanding estimasi sebelumnya sebesar 4,3%. Revisi ini menunjukkan ketahanan ekonomi AS yang masih solid, namun belum cukup kuat untuk mengangkat sentimen terhadap dolar.
Tekanan tambahan datang dari data inflasi berbasis Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi (PCE). Inflasi tahunan tercatat naik menjadi 2,8% pada November dari 2,7% di Oktober. Sementara itu, PCE inti—indikator inflasi favorit The Fed—juga meningkat menjadi 2,8% dan sesuai dengan ekspektasi pasar. Data ini mengisyaratkan bahwa tekanan inflasi masih bertahan, namun belum menunjukkan akselerasi yang cukup untuk mendorong perubahan kebijakan moneter dalam waktu dekat.
Indeks Dolar AS (DXY) semakin tertekan setelah rilis awal Indeks Manajer Pembelian (PMI) S&P Global AS bulan Januari yang lebih lemah dari perkiraan. PMI Manufaktur tercatat di 51,9, lebih rendah dari estimasi 52,1, sementara PMI Jasa turun ke 52,5 dari perkiraan 52,8. Data ini memperkuat pandangan bahwa momentum ekonomi AS mulai melambat di awal tahun.
Pergerakan Mata Uang Utama
Di pasar Eropa, pasangan EUR/USD bergerak stabil di tengah data PMI Zona Euro yang bervariasi. PMI Manufaktur HCOB meningkat menjadi 49,4 dari 48,8 pada Desember, namun masih berada di wilayah kontraksi. PMI Jasa turun ke 51,9 dari 52,4, sementara PMI Gabungan bertahan di 51,5, sedikit di bawah ekspektasi pasar. Pekan depan, fokus investor akan tertuju pada rilis PDB kuartal keempat Zona Euro dan Jerman, serta data inflasi Jerman yang berpotensi memengaruhi ekspektasi kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB).
GBP/USD tampil impresif dengan diperdagangkan di sekitar level 1,3600, tertinggi sejak September 2025. Penguatan pound didukung oleh lonjakan Penjualan Ritel Inggris yang naik 0,4% secara bulanan pada Desember, jauh melampaui perkiraan penurunan. Secara tahunan, penjualan meningkat menjadi 2,5%. Data PMI Inggris juga menunjukkan ekspansi yang solid, memperkuat sentimen positif terhadap ekonomi Inggris.
Sementara itu, USD/JPY melemah ke area 156,00, level terendah dua pekan terakhir. Bank of Japan (BoJ) mempertahankan suku bunga acuannya di 0,75% sesuai ekspektasi. Dalam konferensi pers, Gubernur Kazuo Ueda memilih untuk tidak memberikan komentar langsung mengenai nilai tukar yen, membuat pasar berspekulasi terkait potensi langkah kebijakan di masa depan.
Di kawasan Pasifik, AUD/USD melonjak mendekati 0,6880, level tertinggi sejak September 2024. Penguatan dolar Australia didorong oleh reli mata uang berbasis komoditas serta lonjakan harga emas yang mencetak rekor baru.
Emas dan Aset Safe Haven
Harga emas mencatatkan rekor tertinggi baru di sekitar $4.988 per ons. Permintaan terhadap aset safe haven tetap kuat di tengah ketegangan geopolitik yang belum mereda dan meningkatnya ketidakpastian kebijakan global. Tren ini semakin menekan dolar AS, yang biasanya bersaing dengan emas sebagai aset lindung nilai.
Agenda Penting Pekan Depan
Pekan depan akan dipenuhi pidato pejabat bank sentral utama. Dari ECB, Joachim Nagel dijadwalkan berbicara pada Senin dan Selasa bersama Presiden ECB Christine Lagarde. Beberapa pejabat lain seperti Frank Elderson, Isabel Schnabel, dan Piero Cipollone juga akan memberikan pandangan mereka sepanjang pekan.
Dari sisi data dan kebijakan, pasar akan mencermati rilis Perubahan Ketenagakerjaan ADP AS, risalah kebijakan BoJ, CPI Australia, keputusan suku bunga Bank of Canada, serta keputusan suku bunga Federal Reserve yang diperkirakan tetap di kisaran 3,50%–3,75%. Di akhir pekan, perhatian akan tertuju pada data PDB flash Zona Euro dan Jerman, inflasi awal Jerman, serta data PMI Tiongkok.
Dengan dolar AS berada di titik terlemah dalam empat bulan terakhir, fokus pasar kini sepenuhnya tertuju pada pesan The Fed dan arah kebijakan bank sentral global. Kombinasi antara ketidakpastian geopolitik, sinyal perlambatan ekonomi, dan agenda data padat berpotensi menjaga volatilitas tetap tinggi dalam beberapa hari ke depan.
