AUD/JPY Melemah ke 103,50: Data Ketenagakerjaan Australia Melemah, Risiko Fiskal Jepang Jadi Penahan Tekanan
AUD/JPY jatuh ke 103,50 setelah data ketenagakerjaan Australia menunjukkan pelemahan. Namun, sikap hawkish RBA dan risiko fiskal Jepang berpotensi menahan penurunan lebih lanjut. Simak analisis lengkap pergerakan dan prospek AUD/JPY.
Data Tenaga Kerja Australia Beragam dan Membebani AUD
Pasangan mata uang AUD/JPY mengalami tekanan pada perdagangan awal sesi Eropa hari Kamis, dengan pergerakan yang membawa pasangan ini turun mendekati level 103,50. Pelemahan Dolar Australia terhadap Yen Jepang terjadi setelah rilis data tenaga kerja Australia menunjukkan hasil yang beragam, memberikan sentimen negatif awal terhadap Aussie. Meski demikian, ekspektasi pasar terhadap sikap hawkish Bank Sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) berpotensi menjadi penopang yang membatasi tekanan penurunan lebih dalam.
Biro Statistik Australia (Australian Bureau of Statistics/ABS) melaporkan bahwa tingkat pengangguran Australia pada November berada di 4,3%, sama dengan bulan sebelumnya. Angka ini sedikit lebih baik dari perkiraan pasar yang memperkirakan kenaikan ke 4,4%. Stabilnya tingkat pengangguran ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja tidak sepenuhnya melemah, meski tekanan mulai terlihat.
Namun, data perubahan ketenagakerjaan memberikan gambaran yang jauh lebih pesimistis. Australia melaporkan penurunan tenaga kerja sebesar 21,3 ribu di bulan November, turun tajam dibandingkan peningkatan besar pada bulan Oktober yang direvisi menjadi 41,1 ribu. Angka ini juga jauh dari ekspektasi konsensus yang memperkirakan kenaikan 20 ribu. Laporan ini langsung menekan Dolar Australia karena menunjukkan melemahnya fundamental sektor tenaga kerja yang selama beberapa tahun terakhir menjadi pilar kekuatan ekonomi Australia.
Reaksi pasar cukup jelas: AUD melemah cepat terhadap JPY, mencerminkan kekecewaan terhadap data tenaga kerja yang tidak hanya gagal memenuhi ekspektasi, tetapi juga menunjukkan potensi perlambatan ekonomi.
Sikap Hawkish RBA Berpotensi Membatasi Penurunan AUD
Meski data ketenagakerjaan memberikan tekanan, outlook kebijakan moneter Australia tetap memberikan sedikit harapan bagi AUD. Pernyataan terbaru Gubernur RBA, Michele Bullock, menunjukkan bahwa kemungkinan pemotongan suku bunga dalam waktu dekat sangat kecil. Bullock menegaskan bahwa pengurangan suku bunga tidak masuk dalam horizon kebijakan untuk saat ini. Bahkan, ia menyebut bahwa dewan direksi telah membahas potensi kenaikan suku bunga lebih lanjut jika tekanan inflasi tidak mereda.
Komentar ini menunjukkan bahwa RBA tetap berada dalam mode hawkish, mendorong ekspektasi bahwa suku bunga mungkin akan dinaikkan kembali pada 2026, dengan kemungkinan paling cepat terjadi pada Februari atau Juni 2026. Pasar keuangan kini telah memasukkan skenario tersebut dalam harga, yang secara tidak langsung memberikan fondasi kuat bagi AUD untuk menghindari pelemahan yang lebih dalam.
Dengan inflasi yang masih berada di atas target RBA dan kondisi ekonomi yang tidak sepenuhnya melambat, pasar menilai bahwa RBA memiliki ruang untuk melanjutkan pengetatan kebijakan jika diperlukan. Hal ini menjadi salah satu faktor yang dapat membatasi penurunan AUD/JPY dalam waktu dekat.
Risiko Fiskal Jepang dan Agenda Pro-Pertumbuhan Menahan Penguatan Yen
Sementara AUD tertekan oleh data domestik, Yen Jepang juga tidak sepenuhnya berada dalam kondisi yang solid. Kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan fiskal Jepang menjadi faktor penting yang menahan penguatan mata uang tersebut.
Pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi memprioritaskan agenda pro-pertumbuhan, yang mengarah pada potensi stimulus fiskal lebih besar serta kebijakan belanja pemerintah yang agresif. Langkah-langkah ini dianggap sebagai upaya mendorong reflasi dan menghidupkan kembali aktivitas ekonomi Jepang yang melemah. Walaupun kebijakan stimulus sering dilihat sebagai langkah positif bagi ekonomi, bagi Yen kondisi ini justru sering menjadi faktor yang memperlemah karena stimulus cenderung mendorong pelebaran defisit dan peningkatan imbal hasil obligasi pemerintah.
Pelaku pasar juga berhati-hati karena ekspansi fiskal yang terlalu besar berpotensi mengurangi daya tarik Yen sebagai aset safe-haven. Dengan demikian, tekanan terhadap Yen dari sisi fundamental dapat menjadi penyeimbang bagi pelemahan AUD, sehingga mengurangi ruang bagi AUD/JPY untuk jatuh terlalu dalam.
Dinamika AUD/JPY: Antara Data Lemah dan Kebijakan Moneter
Pergerakan AUD/JPY saat ini berada dalam titik tarik-menarik antara dua faktor utama:
-
Data tenaga kerja Australia yang lemah, yang memberikan tekanan langsung terhadap AUD.
-
Risiko fiskal Jepang dan prospek stimulus, yang menahan potensi penguatan JPY.
Selain itu, ekspektasi hawkish RBA memberikan lapisan dukungan bagi AUD, membuat pelemahan pasangan ini tidak terlalu tajam.
Trader kini menantikan data lanjutan, termasuk dinamika inflasi Australia, keputusan kebijakan RBA berikutnya, serta sinyal fiskal dari Jepang yang dapat memengaruhi arah pasar dalam beberapa minggu mendatang.
AUD/JPY yang turun ke area 103,50 mencerminkan respons pasar terhadap data tenaga kerja Australia yang kurang solid. Namun, kombinasi sikap hawkish RBA dan ketidakpastian fiskal Jepang menciptakan keseimbangan yang memungkinkan pasangan ini tetap bertahan dari koreksi lebih dalam. Pergerakan AUD/JPY selanjutnya kemungkinan akan sangat ditentukan oleh perkembangan kebijakan kedua negara dan data ekonomi yang menyusul.

One thought on “AUD/JPY Melemah ke 103,50: Data Ketenagakerjaan Australia Melemah, Risiko Fiskal Jepang Jadi Penahan Tekanan”