jpy

EUR/JPY Tembus Rekor Tertinggi di Atas 185,50 di Tengah Tekanan Fiskal Jepang

EUR/JPY melonjak ke rekor tertinggi baru di atas 185,50 seiring melemahnya Yen Jepang akibat ketidakpastian fiskal, risiko politik, serta perbedaan kebijakan moneter antara BoJ dan ECB.

Yen Jepang Tertekan oleh Risiko Fiskal dan Politik

Pasangan mata uang EUR/JPY melanjutkan reli kuatnya untuk sesi keempat berturut-turut, menembus rekor tertinggi sepanjang masa di atas level 185,50 pada awal perdagangan sesi Eropa hari Rabu. Kenaikan ini mencerminkan semakin lebarnya perbedaan fundamental antara Euro dan Yen Jepang, yang dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Jepang, ketidakpastian politik, serta keterbatasan Bank of Japan (BoJ) dalam menormalisasi kebijakan moneternya.

Di sisi lain, Euro terus mendapatkan dukungan kuat seiring meningkatnya keyakinan pasar bahwa Bank Sentral Eropa (ECB) mendekati akhir siklus pemangkasan suku bunga, sehingga memperkuat momentum kenaikan EUR/JPY.

Yen Jepang masih menjadi salah satu mata uang utama dengan kinerja terlemah, tertekan oleh kekhawatiran yang semakin besar terhadap keberlanjutan fiskal Jepang dalam jangka panjang. Pelaku pasar semakin waspada terhadap tingginya rasio utang pemerintah serta potensi kebijakan fiskal ekspansif yang dapat memperburuk tekanan struktural ekonomi.

Sentimen negatif terhadap Yen semakin menguat setelah muncul laporan bahwa Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi berpotensi menggelar pemilihan umum mendadak dalam waktu dekat. Berdasarkan laporan Bloomberg, pemilihan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Jepang disebut-sebut dapat dilaksanakan pada 8 Februari, yang dipandang sebagai upaya untuk mengonsolidasikan kekuasaan politik dan membuka jalan bagi kebijakan fiskal yang lebih agresif.

Spekulasi ini memicu kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan peningkatan belanja negara dan penerbitan utang baru, yang pada akhirnya memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar Yen.

Dilema Kebijakan Bank of Japan Membatasi Penguatan Yen

Pernyataan Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda belum mampu memberikan dukungan berarti bagi Yen. Ueda menegaskan bahwa kenaikan suku bunga tetap memungkinkan apabila perkembangan ekonomi, upah, dan harga bergerak sesuai dengan proyeksi. Namun demikian, pasar masih meragukan kemampuan BoJ untuk menaikkan suku bunga secara signifikan dalam waktu dekat.

Survei sektor swasta menunjukkan bahwa aktivitas manufaktur Jepang melambat akibat gesekan perdagangan global, sementara sektor jasa turut terbebani oleh gangguan di industri pariwisata. Kondisi ini mempersempit ruang gerak BoJ untuk melakukan pengetatan moneter tanpa menimbulkan risiko perlambatan ekonomi yang lebih dalam.

Akibatnya, pasar masih memperkirakan kebijakan moneter Jepang akan tetap longgar untuk periode yang lebih panjang, menjaga imbal hasil obligasi Jepang tetap rendah dan mendorong arus modal keluar ke mata uang dengan imbal hasil lebih tinggi seperti Euro.

Peringatan Intervensi Tidak Mampu Mengangkat Yen

Upaya pemerintah Jepang untuk menahan pelemahan Yen sejauh ini masih sebatas pernyataan verbal. Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menyatakan bahwa dirinya dan Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent telah menyampaikan keprihatinan terkait “depresiasi sepihak” Yen dalam pertemuan bilateral di sela-sela forum menteri keuangan multilateral.

Namun, pasar menilai pernyataan tersebut belum cukup kuat untuk mengubah arah pergerakan Yen. Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa intervensi verbal hanya berdampak sementara, dan tanpa perubahan kebijakan moneter yang nyata, tekanan terhadap Yen diperkirakan akan terus berlanjut.

Euro Menguat Didukung Prospek Kebijakan ECB

Sementara itu, Euro terus mendapatkan dorongan dari membaiknya prospek kebijakan moneter ECB. Data inflasi terbaru dari Zona Euro memperkuat pandangan bahwa bank sentral Eropa mendekati akhir fase pelonggaran kebijakan.

Inflasi utama Zona Euro tercatat melambat ke 2,0% pada Desember, menjadi level terendah dalam empat bulan dan tepat berada di target ECB. Inflasi inti, yang tidak mencakup harga energi dan pangan, juga turun menjadi 2,3%, sedikit di bawah ekspektasi pasar.

Perkembangan ini menunjukkan tekanan inflasi yang semakin terkendali, sehingga mengurangi urgensi pemangkasan suku bunga lanjutan. Dengan demikian, selisih suku bunga antara Zona Euro dan Jepang tetap lebar, menjadikan Euro lebih menarik dalam strategi carry trade.

Prospek EUR/JPY Masih Cenderung Bullish

Dari sisi teknikal, penembusan EUR/JPY di atas level 185,50 menandakan momentum bullish yang sangat kuat, dengan minimnya area resistensi historis karena pasangan ini berada di wilayah rekor. Indikator momentum tetap menunjukkan tren positif, mencerminkan dominasi minat beli di pasar.

Secara fundamental, prospek EUR/JPY masih condong ke arah penguatan selama ketidakpastian fiskal Jepang berlanjut dan BoJ tetap berhati-hati, sementara ECB menunjukkan stabilitas kebijakan. Koreksi jangka pendek berpotensi dimanfaatkan sebagai peluang beli, kecuali terjadi perubahan signifikan dalam kebijakan Jepang atau intervensi yang kredibel untuk menopang Yen.

Risiko yang Perlu Diperhatikan

Meski tren masih bullish, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko, termasuk perubahan sikap mendadak BoJ, data inflasi atau upah Jepang yang jauh lebih kuat dari perkiraan, serta potensi intervensi terkoordinasi di pasar valuta asing. Selain itu, pelemahan ekonomi Zona Euro juga dapat membatasi penguatan Euro.

Lonjakan EUR/JPY ke rekor tertinggi di atas 185,50 menegaskan semakin lebarnya perbedaan kebijakan antara Jepang dan Zona Euro. Di tengah tekanan fiskal, dinamika politik, dan keterbatasan kebijakan moneter Jepang, serta dukungan Euro dari stabilisasi inflasi dan berakhirnya siklus pelonggaran ECB, arah EUR/JPY masih berpotensi melanjutkan tren naik dalam waktu dekat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this content