Harga Minyak WTI Bertahan di Dekat US$57,50, Pasar Waspadai Risiko Pasokan dan Ketegangan Geopolitik
Harga minyak WTI bertahan di dekat US$57,50 per barel seiring kekhawatiran pasokan global, ketegangan geopolitik, dan prospek permintaan dari Tiongkok pada 2026.
WTI Rebound Setelah Tekanan Jual Tajam
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berhasil mempertahankan penguatannya di awal pekan, diperdagangkan di kisaran US$57,30–US$57,50 per barel selama sesi Eropa hari Senin. Pergerakan ini menandai rebound setelah WTI sebelumnya terkoreksi sekitar 2,5% pada sesi perdagangan sebelumnya.
Pemulihan harga terjadi di tengah meningkatnya perhatian investor terhadap risiko gangguan pasokan global, terutama yang bersumber dari ketidakpastian geopolitik. Meski kekhawatiran mengenai kelebihan pasokan masih membayangi pasar, sejumlah faktor eksternal mendorong pelaku pasar untuk kembali mengambil posisi beli secara selektif.
Ketidakpastian Perdamaian Ukraina Jadi Faktor Kunci
Salah satu sentimen utama yang memengaruhi pergerakan harga minyak adalah perkembangan terbaru terkait konflik Ukraina. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan melakukan pembicaraan lanjutan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy dalam waktu dekat.
Menurut laporan Bloomberg, Trump menyatakan bahwa pembicaraan damai telah menunjukkan “banyak kemajuan”. Namun, ia juga mengakui belum ada terobosan signifikan terkait isu-isu teritorial yang menjadi titik krusial konflik. Trump menegaskan bahwa kesepakatan damai penuh masih berpotensi memakan waktu beberapa minggu.
Bagi pasar energi, ketidakpastian ini menjadi faktor penting. Konflik yang berlarut-larut berisiko memperpanjang sanksi, hambatan distribusi, serta ketidakstabilan rantai pasok energi global, khususnya di Eropa dan kawasan sekitarnya.
Ketegangan Timur Tengah Kembali Angkat Risiko Pasokan
Selain Ukraina, kawasan Timur Tengah kembali menjadi sumber kekhawatiran pasar. Serangan udara yang dilaporkan dilakukan Arab Saudi di Yaman, serta meningkatnya retorika keras Iran yang menyebut kemungkinan “perang skala penuh” melawan Amerika Serikat, Eropa, dan Israel, meningkatkan risiko eskalasi konflik regional.
Kawasan Timur Tengah merupakan salah satu pusat produksi dan distribusi minyak terbesar dunia. Setiap potensi gangguan, baik berupa konflik militer maupun gangguan jalur pelayaran strategis, dapat berdampak langsung terhadap pasokan minyak global dan memicu lonjakan harga dalam waktu singkat.
Situasi ini membuat investor cenderung berhati-hati, sekaligus menahan tekanan jual berlebihan meskipun prospek pasokan jangka menengah masih dinilai longgar.
Pengawasan Ketat AS terhadap Venezuela dan Nigeria
Menurut laporan Reuters, analis IG Tony Sycamore menyebutkan bahwa pelaku pasar juga mencermati langkah penegakan hukum Amerika Serikat terhadap pengiriman minyak Venezuela. Pengetatan pengawasan ini berpotensi membatasi ekspor minyak dari negara tersebut, yang selama ini menjadi salah satu pemasok penting di pasar global.
Selain itu, pasar juga menimbang kemungkinan dampak dari serangan Amerika Serikat terhadap target ISIS di Nigeria. Nigeria diketahui memproduksi sekitar 1,5 juta barel minyak per hari, sehingga gangguan keamanan di negara tersebut dapat memengaruhi keseimbangan pasokan global, khususnya di kawasan Afrika Barat.
Kombinasi dari faktor-faktor ini memperkuat persepsi bahwa risiko pasokan masih relevan, meskipun secara struktural pasar minyak diperkirakan akan menghadapi surplus pada tahun mendatang.
Dukungan dari Prospek Permintaan Tiongkok
Dari sisi permintaan, sentimen positif datang dari Tiongkok. Pemerintah Tiongkok menyatakan rencana untuk meningkatkan belanja fiskal pada tahun 2026, sebagai bagian dari upaya mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Langkah ini dipandang sebagai sinyal kuat bahwa otoritas Beijing siap menjaga momentum pemulihan ekonomi, khususnya di sektor manufaktur dan infrastruktur. Peningkatan aktivitas ekonomi di Tiongkok berpotensi mendorong permintaan energi, termasuk minyak mentah, mengingat negara tersebut merupakan importir minyak terbesar di dunia.
Harapan akan meningkatnya konsumsi minyak dari Tiongkok menjadi salah satu faktor penahan tekanan penurunan harga WTI, terutama setelah penurunan tajam yang terjadi sepanjang tahun ini.
Tekanan Tahunan Masih Membayangi Pasar Minyak
Meski mengalami rebound jangka pendek, harga minyak mentah masih berada dalam tren pelemahan secara tahunan. WTI tercatat berada di jalur penurunan lebih dari 20% sepanjang tahun ini, yang menjadi penurunan tahunan terdalam sejak tahun 2020.
Pelemahan tersebut terutama disebabkan oleh ekspektasi surplus pasokan global pada 2026, seiring peningkatan produksi dari sejumlah negara non-OPEC dan pertumbuhan permintaan yang dinilai tidak secepat perkiraan sebelumnya.
Kondisi ini membuat pasar berada dalam tarik-menarik antara sentimen fundamental jangka panjang yang bearish dan faktor geopolitik jangka pendek yang cenderung bullish.
Pandangan Pasar ke Depan
Dalam jangka pendek, pergerakan harga WTI diperkirakan tetap volatil dan sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik. Setiap kabar baru terkait Ukraina, Timur Tengah, Venezuela, atau Nigeria berpotensi memicu reaksi harga yang signifikan.
Sementara itu, fokus pasar juga akan tertuju pada data ekonomi global dan sinyal kebijakan dari negara-negara konsumen utama, khususnya Tiongkok dan Amerika Serikat. Jika prospek pertumbuhan global membaik, permintaan energi dapat memberikan bantalan tambahan bagi harga minyak.
Namun, selama kekhawatiran surplus pasokan masih mendominasi narasi jangka menengah, reli harga kemungkinan akan terbatas dan bersifat teknikal.
Harga minyak WTI berhasil bertahan di dekat US$57,50 per barel, didukung oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap risiko pasokan global dan harapan permintaan yang lebih kuat dari Tiongkok. Meski demikian, tekanan struktural akibat potensi surplus pasokan pada 2026 masih membayangi pasar. Dengan latar belakang geopolitik yang kompleks dan prospek ekonomi global yang beragam, pasar minyak diperkirakan akan tetap bergerak fluktuatif dalam waktu dekat.

One thought on “Harga Minyak WTI Bertahan di Dekat US$57,50, Pasar Waspadai Risiko Pasokan dan Ketegangan Geopolitik”