USD/INR Cetak Rekor Baru di Atas 91,00
USD/INR menembus rekor tertinggi di atas 91,00 seiring arus keluar modal asing dari India yang berlanjut, inflasi domestik tetap rendah, dan pasar menanti arah kebijakan The Fed melalui data NFP AS.
USD/INR Melanjutkan Reli, Rupee India Tertekan Arus Modal Asing
Nilai tukar Rupee India (INR) kembali melemah terhadap Dolar AS (USD) pada awal pekan, memperpanjang tren penurunan untuk hari perdagangan ketiga berturut-turut. Pasangan mata uang USD/INR bahkan mencatatkan level tertinggi sepanjang masa di kisaran 91,00, mencerminkan tekanan yang semakin kuat terhadap mata uang India di tengah arus keluar modal asing yang konsisten serta ketidakpastian eksternal yang belum mereda.
Tekanan terhadap Rupee sebagian besar dipicu oleh penjualan berkelanjutan investor institusi asing (Foreign Institutional Investors/FII) di pasar saham domestik. Hingga pertengahan Desember, FII tercatat menjadi penjual bersih pada seluruh hari perdagangan, dengan total aksi jual mencapai sekitar Rs. 19.605,51 crore. Aliran dana keluar ini secara langsung menggerus permintaan terhadap INR dan memperkuat dominasi Dolar AS di pasar valuta asing.
Ketiadaan kesepakatan perdagangan yang konkret antara Amerika Serikat dan India turut memperburuk sentimen. Meskipun Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, menyebut tawaran terbaru dari New Delhi sebagai “yang terbaik yang pernah ada”, pasar menilai belum adanya konsensus final sebagai sinyal negatif jangka pendek bagi Rupee. Ketidakpastian hubungan dagang ini membuat investor global cenderung bersikap defensif terhadap aset India.
Inflasi India Naik, Namun Masih Memberi Ruang Pelonggaran Kebijakan
Dari sisi domestik, data Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) ritel India menunjukkan kenaikan menjadi 0,71% secara tahunan pada November, meningkat dari 0,25% pada Oktober dan sejalan dengan ekspektasi pasar. Kendati demikian, angka tersebut masih berada jauh di bawah rentang toleransi Reserve Bank of India (RBI) sebesar 2%–6%, sehingga tidak menimbulkan tekanan inflasi yang signifikan.
Kondisi inflasi yang relatif terkendali ini memperkuat spekulasi bahwa RBI masih memiliki ruang untuk melanjutkan siklus pelonggaran kebijakan moneter. Sebelumnya, bank sentral India telah memangkas Suku Bunga Repo sebesar 25 basis poin menjadi 5,25%, sekaligus mempertahankan sikap kebijakan yang netral. Kombinasi inflasi rendah dan kebijakan moneter yang akomodatif, meski mendukung pertumbuhan ekonomi, cenderung memberikan tekanan tambahan pada mata uang domestik.
Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian ke data Inflasi Indeks Harga Grosir (WPI) India bulan November yang dijadwalkan rilis pada pukul 06.30 GMT. Inflasi produsen diperkirakan menyusut 0,6% secara tahunan, membaik dari kontraksi 1,21% pada Oktober. Jika proyeksi ini terealisasi, data tersebut akan semakin menegaskan lemahnya tekanan harga di sisi produsen.
Dolar AS Rapuh, Namun Tetap Unggul atas Rupee
Menariknya, penguatan USD terhadap INR terjadi meskipun Dolar AS secara global berada dalam fase pelemahan. Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan Greenback terhadap enam mata uang utama, tercatat bergerak di dekat level terendah delapan minggu di sekitar 98,13.
Pelemahan Dolar ini dipicu oleh ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan memangkas suku bunga lebih agresif pada tahun-tahun mendatang dibandingkan proyeksi resminya saat ini. Berdasarkan alat CME FedWatch, pasar memperkirakan peluang sebesar 64,3% bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga setidaknya dua kali hingga akhir 2026. Sementara itu, proyeksi dot plot The Fed menunjukkan suku bunga acuan diperkirakan turun ke 3,4% pada 2026, mengindikasikan setidaknya satu pemangkasan tambahan dari kisaran saat ini 3,50%–3,75%.
Spekulasi dovish ini semakin menguat seiring dinamika politik di Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyuarakan ketidakpuasannya terhadap kebijakan suku bunga tinggi dan dikabarkan mempertimbangkan dua kandidat utama—Kevin Hassett dan Kevin Warsh—untuk menggantikan Ketua The Fed Jerome Powell. Pasar menilai bahwa kepemimpinan baru yang lebih sejalan dengan agenda ekonomi Trump berpotensi mendorong kebijakan moneter yang lebih longgar.
Fokus Pasar Beralih ke Data NFP AS
Dalam jangka pendek, perhatian investor global tertuju pada rilis Nonfarm Payrolls (NFP) AS. Data ketenagakerjaan ini dipandang krusial karena akan memberikan petunjuk lanjutan mengenai kekuatan pasar tenaga kerja AS dan arah kebijakan The Fed ke depan. Melemahnya kondisi tenaga kerja telah menjadi salah satu faktor utama di balik pemangkasan suku bunga sebesar 100 basis poin sepanjang tahun ini.
Hasil NFP yang lebih lemah dari ekspektasi berpotensi menekan Dolar AS secara luas. Namun, untuk USD/INR, sentimen domestik India dan arus modal asing tetap menjadi faktor dominan, sehingga pelemahan Dolar belum tentu cukup untuk membalikkan tren pasangan ini.
Analisis Teknikal: Tren Bullish USD/INR Masih Terjaga
Secara teknikal, USD/INR diperdagangkan di sekitar 90,94, bertahan di atas Exponential Moving Average (EMA) 20-hari di 89,94, yang menandakan bahwa tren jangka pendek masih mengarah naik. Garis tren naik yang terbentuk sejak level 88,64 terus menjadi penopang utama bias bullish.
Namun demikian, Relative Strength Index (RSI) 14-hari di kisaran 71,7 menunjukkan kondisi jenuh beli, yang membuka peluang konsolidasi atau koreksi terbatas dalam jangka pendek. Jika terjadi pelemahan, area EMA 20-hari diperkirakan menjadi support pertama, dengan penurunan lebih dalam berpotensi menguji level psikologis 90,00.
Sebaliknya, apabila momentum bullish berlanjut dan harga mampu bertahan di atas level saat ini, USD/INR berpeluang memperpanjang reli menuju area 92,00 dalam waktu dekat.
Meski Dolar AS secara global sedang melemah, kombinasi arus keluar modal asing, inflasi domestik yang rendah, dan kebijakan moneter akomodatif RBI terus menekan Rupee India. Selama faktor-faktor tersebut belum berubah signifikan, USD/INR berpotensi tetap bergerak dalam tren naik dengan volatilitas tinggi, terutama menjelang rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat.

One thought on “USD/INR Cetak Rekor Baru di Atas 91,00”