EUR/USD Bangkit di Tengah Eskalasi Perang Dagang UE–AS
Pasangan EUR/USD kembali menguat ke kisaran 1,16–1,17 di tengah memanasnya kembali ketegangan perdagangan Uni Eropa–Amerika Serikat, potensi keputusan Mahkamah Agung AS soal tarif, serta meningkatnya risiko geopolitik yang menekan prospek dolar AS.
Pasar Menimbang Ulang Risiko Perang Dagang UE–AS
Pasangan mata uang EUR/USD kembali menunjukkan daya tahannya dengan memantul ke kisaran 1,16–1,17 pada pertengahan perdagangan, setelah sebelumnya sempat tertekan. Rebound ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan antara Uni Eropa (UE) dan Amerika Serikat, serta ketidakpastian hukum terkait legalitas kebijakan tarif AS yang kini berada di bawah sorotan Mahkamah Agung.
Analis valas Danske Bank, Kristoffer Kjær Lomholt, menilai bahwa meskipun sentimen pasar masih dibayangi volatilitas tinggi, latar belakang fundamental global saat ini cenderung tidak menguntungkan bagi dolar AS. Kombinasi risiko geopolitik, potensi retaliasi dagang, dan dinamika politik internal AS membuat investor semakin berhati-hati dalam mengambil posisi besar terhadap greenback.
Setelah mengalami pelemahan awal, EUR/USD berhasil bangkit seiring pelaku pasar mulai mencerna kemungkinan babak baru perang dagang antara Washington dan Brussel. Ketegangan ini dipicu oleh kebijakan tarif AS yang berpotensi kembali menargetkan produk-produk asal Eropa, sebuah langkah yang membuka ruang bagi UE untuk melakukan pembalasan.
Menurut Lomholt, pasar saat ini berada dalam fase wait and see, terutama menjelang keputusan Mahkamah Agung AS terkait apakah kebijakan tarif tersebut memiliki landasan hukum yang kuat. Ketidakpastian ini membuat investor enggan melakukan positioning agresif, khususnya setelah akhir pekan yang dipenuhi perkembangan geopolitik penting.
“Setelah penurunan awal, EUR/USD rebound kembali ke kisaran 1,16–1,17 seiring pasar mencerna kebangkitan kembali perang dagang UE–AS. Dengan potensi keputusan Mahkamah Agung mengenai legalitas tarif, investor tampak enggan mengambil posisi besar,” ujar Lomholt.
Risiko Geopolitik dan Retaknya Hubungan Transatlantik
Lebih dari sekadar isu perdagangan, ketegangan ini juga beririsan dengan risiko geopolitik yang lebih luas, termasuk potensi keretakan hubungan dalam aliansi NATO. Perbedaan pandangan antara AS dan sejumlah negara Eropa terkait kebijakan luar negeri, pertahanan, dan perdagangan semakin mempertegas ketidakpastian global.
Isu-isu ini diperkirakan akan mendominasi agenda kebijakan internasional dalam waktu dekat. Presiden AS Donald Trump dijadwalkan berbicara di Forum Ekonomi Dunia di Davos, sebuah panggung global yang sering digunakan untuk menyampaikan sikap kebijakan strategis. Tak lama setelah itu, para pemimpin Uni Eropa akan menggelar pertemuan penting pada Kamis, yang berpotensi menghasilkan sikap bersama terkait respons terhadap tekanan AS.
Pasar akan mencermati dengan saksama setiap pernyataan yang mengindikasikan arah kebijakan perdagangan ke depan, terutama apakah akan terjadi eskalasi atau justru upaya de-eskalasi.
UE Pertimbangkan Strategi Balasan ala Tiongkok
Salah satu pertanyaan kunci yang kini menjadi fokus pasar adalah apakah Uni Eropa akan meniru strategi Tiongkok dalam merespons tekanan tarif AS. Tahun lalu, Beijing menerapkan pendekatan tarif satu banding satu, sebuah strategi yang dirancang untuk memberikan tekanan langsung sekaligus membuka ruang negosiasi.
Jika UE memilih jalur serupa, maka konflik dagang berpotensi meningkat ke level yang lebih tinggi, dengan implikasi luas terhadap perdagangan global, rantai pasok, dan stabilitas pasar keuangan.
Menurut Danske Bank, langkah pembalasan semacam itu memang berisiko, namun juga dapat menjadi alat tawar efektif untuk mendorong Washington agar menahan diri dan membuka dialog. Bagi pasar valuta asing, dinamika ini cenderung menciptakan lingkungan yang kurang kondusif bagi dolar AS, terutama jika ketidakpastian terus meningkat.
Mengapa Latar Belakang Global Negatif bagi Dolar AS
Dalam jangka pendek hingga menengah, dolar AS menghadapi berbagai tantangan. Selain ketegangan perdagangan dan risiko geopolitik, investor juga mempertimbangkan faktor-faktor seperti arah kebijakan fiskal AS, stabilitas politik, serta persepsi global terhadap kepemimpinan ekonomi Amerika Serikat.
Ketika risiko global meningkat, dolar memang sering dipandang sebagai aset safe haven. Namun dalam konteks saat ini, sumber ketidakpastian justru berasal dari AS sendiri, sehingga daya tarik dolar sebagai aset lindung nilai menjadi relatif berkurang.
Sebaliknya, euro mendapatkan dukungan dari ekspektasi bahwa UE akan bersikap lebih terkoordinasi dan strategis dalam menghadapi tekanan eksternal. Meski tantangan internal Eropa masih ada, posisi euro terhadap dolar tampak lebih stabil dalam jangka pendek.
Prospek EUR/USD ke Depan
Dengan EUR/USD yang kembali bertahan di atas area 1,16, fokus pasar kini tertuju pada perkembangan kebijakan dan sinyal politik dalam beberapa hari ke depan. Pernyataan dari Davos, hasil pertemuan pemimpin UE, serta perkembangan hukum di AS akan menjadi katalis utama pergerakan berikutnya.
Selama ketidakpastian ini belum mereda, volatilitas diperkirakan tetap tinggi. Namun, sebagaimana ditegaskan oleh Danske Bank, latar belakang makro dan geopolitik saat ini cenderung memberikan tekanan lebih besar pada dolar AS dibandingkan euro, membuka ruang bagi EUR/USD untuk tetap bertahan atau bahkan menguat lebih lanjut.
